Cinta hadir dari tatapan mata turun ke hati dan semua akan terasa indah dibuai asmara. “fuck in bullshit” itulah tanggapanku tentang sepenggal pepatah yang sering diucapkan oleh para pemuja cinta. Entah karena apa dan kenapa ku benci kata-kata romantis, aku tak pernah percaya kalau tatapan mata mampu membuat seseorang jatuh cinta. Karena aku telah membuktikannya, tak dapat kuhitung dengan jari tangan dan kakiku betapa sering aku menatap mata kawan-kawan pria ku, namun tak pernah satupun kutemukan keistimewaan.
“Please dong Sree kalau nada gw udah datar, artinya…….!!!??”
“Artinya lo serius…oh please dong orang kaya lo mana mungkin bisa serius”. Dia memalingkan muka ke arahku dan aku pun tak mau kalah, ku tatap tajam matanya dan dia pun membalasnya dengan melotot sekuat urat-urat syaraf matanya.
“Ya udah jadi mau lo apa?” akhirnya aku putuskan untuk mengalah karena mataku memang lebih kecil dari matanya, badanku juga lebih kecil dibandingkan badannya dan daripada terjadi perang mulut antara Irak dan Iran aku putuskan untuk mengalah.
“Ramalin gw…”
“Ga bisa….” jawabku singkat.
“Eh…eh…eh songong ya, ‘ga gw gaji tau rasa lo” Benyo mengarahkan telunjuknya tepat di mukaku.
“Penting ‘ga sih gw ngeramalin lo Nyo…..?!?”
“Ayo dong Sree, dikit aja…” uh..ingin tertawa rasanya aku melihat tingkahnya, aku melihat rengek seorang raksasa. Jelas saja aku menganggapnya raksasa karena kawanku yang satu ini memiliki tinggi kira-kira 185 cm, berbadan gemuk, doyan makan, apapun dilahapnya yang penting halal. tapi sifatnya ‘ga pernah mau mengalah, maunya menang terus.
“Yakin lo yang mohon ke gw nih….???” Akupun cukup pandai memanfaatkan moment seperti ini untuk mengolok-oloknya, lagian kapan lagi seorang Benyo mau mengakui kekalahannya.
“Udah deh kalo ‘ga ikhlas mending ‘ga usah……” sahutnya lemas.
Ah…ternyata aku bukan termasuk teman yang tega melihat muka Benyo yang berubah jadi BT.
“Ya deh ‘mo diramalin tentang apa sih Nyo? tentang Dian, tentang Bokap lo yang otoriter???atau tentang fans-fans lo di kampus…??
“Semuanya………..!!!” jawab Benyo spontan.
“100.000 per jam ya, mampu ga bayar gw?!?”
“Yah Sree, buat beli semangkuk mie pangsit aja gw harus malakin Iwan, apalagi buat bayar lo 100.000 per jam Sree”
“Aduh pusing gw, punya kawan kok miskin banget sih???” rasanya aku kasihan melihat kawanku yang satu ini dan akhirnya akupun mengeluarkan kemampuan meramalku untuk meraba bagaimana situs kehidupannya saat ini.
“Eh…Sree besok lo ikut naek gunung Gedekan?”
“Yooii…emangnya kenapa?”
“Kalau ngeramalnya ‘ga selesai malam ini, besok pokoknya lo harus jadi psikiater gw. Biarin aja anak-anak yang laen pada naek gunung, kita di bawah aja. Pokonya lo besok milik gw, lo harus dengerin semua curhatan gw”
“Sumpah lo Nyo, mampu ngasih sogokan apa ke gw kalo besok gw harus jadi psikiater lo?”
“Apa yang lo mau gw kasih deh, asal jangan berhubungan sama duit”
“Dasar cowo’ kere, lo tuh cuma ngandelin tampang doang Nyo…”
“Oh..please dong Sree kalau nada gw udah datar artinya……..?!?”
“Artinya lo marah” spontan ku teruskan kata-kata khasnya yang selalu terputus. “Syukur deh kalu lo marah, jadi gw ‘ga usah cape-cape ngeramalin lo”
“Ga deh Sree, gw ga marah asal lo ‘mo ramalin gw, gimana gw masih ada kesempatan ‘ga sama dia???”