Cinta hadir dari tatapan mata turun ke hati dan semua akan terasa indah dibuai asmara. “fuck in bullshit” itulah tanggapanku tentang sepenggal pepatah yang sering diucapkan oleh para pemuja cinta. Entah karena apa dan kenapa ku benci kata-kata romantis, aku tak pernah percaya kalau tatapan mata mampu membuat seseorang jatuh cinta. Karena aku telah membuktikannya, tak dapat kuhitung dengan jari tangan dan kakiku betapa sering aku menatap mata kawan-kawan pria ku, namun tak pernah satupun kutemukan keistimewaan.
“Please dong Sree kalau nada gw udah datar, artinya…….!!!??”
“Artinya lo serius…oh please dong orang kaya lo mana mungkin bisa serius”. Dia memalingkan muka ke arahku dan aku pun tak mau kalah, ku tatap tajam matanya dan dia pun membalasnya dengan melotot sekuat urat-urat syaraf matanya.
“Ya udah jadi mau lo apa?” akhirnya aku putuskan untuk mengalah karena mataku memang lebih kecil dari matanya, badanku juga lebih kecil dibandingkan badannya dan daripada terjadi perang mulut antara Irak dan Iran aku putuskan untuk mengalah.
“Ramalin gw…”
“Ga bisa….” jawabku singkat.
“Eh…eh…eh songong ya, ‘ga gw gaji tau rasa lo” Benyo mengarahkan telunjuknya tepat di mukaku.
“Penting ‘ga sih gw ngeramalin lo Nyo…..?!?”
“Ayo dong Sree, dikit aja…” uh..ingin tertawa rasanya aku melihat tingkahnya, aku melihat rengek seorang raksasa. Jelas saja aku menganggapnya raksasa karena kawanku yang satu ini memiliki tinggi kira-kira 185 cm, berbadan gemuk, doyan makan, apapun dilahapnya yang penting halal. tapi sifatnya ‘ga pernah mau mengalah, maunya menang terus.
“Yakin lo yang mohon ke gw nih….???” Akupun cukup pandai memanfaatkan moment seperti ini untuk mengolok-oloknya, lagian kapan lagi seorang Benyo mau mengakui kekalahannya.
“Udah deh kalo ‘ga ikhlas mending ‘ga usah……” sahutnya lemas.
Ah…ternyata aku bukan termasuk teman yang tega melihat muka Benyo yang berubah jadi BT.
“Ya deh ‘mo diramalin tentang apa sih Nyo? tentang Dian, tentang Bokap lo yang otoriter???atau tentang fans-fans lo di kampus…??
“Semuanya………..!!!” jawab Benyo spontan.
“100.000 per jam ya, mampu ga bayar gw?!?”
“Yah Sree, buat beli semangkuk mie pangsit aja gw harus malakin Iwan, apalagi buat bayar lo 100.000 per jam Sree”
“Aduh pusing gw, punya kawan kok miskin banget sih???” rasanya aku kasihan melihat kawanku yang satu ini dan akhirnya akupun mengeluarkan kemampuan meramalku untuk meraba bagaimana situs kehidupannya saat ini.
“Eh…Sree besok lo ikut naek gunung Gedekan?”
“Yooii…emangnya kenapa?”
“Kalau ngeramalnya ‘ga selesai malam ini, besok pokoknya lo harus jadi psikiater gw. Biarin aja anak-anak yang laen pada naek gunung, kita di bawah aja. Pokonya lo besok milik gw, lo harus dengerin semua curhatan gw”
“Sumpah lo Nyo, mampu ngasih sogokan apa ke gw kalo besok gw harus jadi psikiater lo?”
“Apa yang lo mau gw kasih deh, asal jangan berhubungan sama duit”
“Dasar cowo’ kere, lo tuh cuma ngandelin tampang doang Nyo…”
“Oh..please dong Sree kalau nada gw udah datar artinya……..?!?”
“Artinya lo marah” spontan ku teruskan kata-kata khasnya yang selalu terputus. “Syukur deh kalu lo marah, jadi gw ‘ga usah cape-cape ngeramalin lo”
“Ga deh Sree, gw ga marah asal lo ‘mo ramalin gw, gimana gw masih ada kesempatan ‘ga sama dia???”
hari sabtu malam minggu aku berangkat dari Jakarta bersama 10 orang kawan-kawanku yang lain menuju areal Cibodas start awal pendakian kami menuju puncak gunung Gede. Kami melewati kawasan Puncak yang tampak indah di malam hari dan sepanjang perjalanan alunan lagu Cinta Sejatinya Ari Lasso terus melantun indah di telingaku juga telinganya karena sebelah dari earphone walkmanku dipinjamnya. Dini hari kami baru sampai di kawasan Cibodas dan tiba-tiba aku melihat tangan kanan Benyo bengkak tanpa sebab, mungkin semalam ia digigit serangga.
“Sree mendingan lo coba cari jahe deh, biar bengkaknya cepet berkurang” sahut Wiwin yang tampak panik melihat keadaan tangan Benyo yang bengkak.
“Inikan masih malem Win, mana ada yang jualan jahe parut malem-malem, sini biar gw urutin aja tangan lo Nyo….habis subuh nanti gw usahain cari jahenya deh”
“Biarin aja lagi Sree, Benyo udah biasa kok begitu, itukan akibat ulahnya yang suka atraksi…” sahut Bakti ngeledek.
Akhirnya subuh pun menggema di areal Cibodas, aku segera membangunkan kawan-kawanku yang baru saja satu jam lalu tertidur. Aku bergegas mencari jahe untuk luka Benyo, dan ternyata perjuanganku tidak sia-sia. Aku menemukan jahenya, meskipun aku harus memarutnya sendiri karena aku membelinya dengan paksa dari dapur si pemilik warung. Tanpa pikir panjang aku kembali ke tempat penginapan ku semula.
“Ini gw dapet jahenya, mendingan sekarang tangan lo diobatin pake jahe biar cepet kempes bengkaknya” sahutku dengan napas tersendat-sendat.
“Lagian lo atraksi terus sih Nyo” sambut anak-anak serentak
“sini biar gw yang obatin tangannya Benyo Sree…” sahut Wiwin senang
“Hebat juga lo Sree, dapet dari mana nih jahe?emangnya ada yang jualan jahe parut disini?” Tanya Wiwin heran
“Gw gituloh, lagian orang Bogor mah emang dasarnya udah pada pandai, cari akal Win” sahutku bangga.
Dari sejak saat itu, luka Benyo tidak pernah lepas dari pandanganku, aku terus memperhatikan perkembangan lukanya, aku tak pernah mengerti mengapa aku begitu khawatir dengan keadaannya padahal lukanya hanya luka kecil saja.
Pagi itu kami semua mulai mendaki, entah karena apa dan kenapa aku begitu semangat, aku hampir tak merasakan lelah, ini memang bukan pendakian pertamaku, tapi entah mengapa semuanya seperti suatu hal yang baru aku lalui. Mungkin karena mereka kawan-kawan yang baru aku kenal tapi mengapa aku merasa begitu dekat dan sayang sama mereka. Kuresapi keindahan dan kemegahan ciptaan Sang Khalik terciptalah kedamaian di tengah hutan rimba yang memberikan banyak cerita. Ingin rasanya menyerahkan seluruh jiwa dan raga ini dalam indahnya tahajud di tengah malam di atas puncak gunung, taman langit yang bersaksi dan keindahan cahaya bulan yang menerangi di atas ketinggian dan kegagahan sang gunung Gede. Angan-angan mengunjungi padang Edelweispun akan segera terwujud dan ini semua tak akan menjadi sebuah mimpi yang semu.
“Teman-teman kalian dimana?!?woiiii….Wiwin….Win….Win….Win….. Bakti….Ti…Ti……Ti….Benyo…..Nyo….Nyo….Nyo…..Riana….a….a….a….aduh…..Azis…..Zis…..Zis….Zis…..gw sendiri…..gw takut…..ada yang denger gw gak..??!?” tak ada yang mendengar teriakanku dan aku baru tersadar kalau sejak tadi aku berjalan sendirian. Aku terbawa angan dan lamunanku, aku kehilangan jejak Azis yang dari tadi aku buntuti dan akupun meninggalkan jauh kawan-kawanku yang lain, bulu kudukku berdiri, hanya ada suara alam, jangkrik, monyet dan sepi yang mencekam.
“Azis lo dimana???.....gw takut Zis…” percuma rasanya aku berteriak, Azis mungkin telah meluncur jauh dari posisiku. Terpaksa aku harus menunggu kedelapan orang kawan-kawanku yang lain. Menunggu sendirian di tengah hutan rimba yang rimbun dengan pepohonan hingga tak setitik pun cahaya matahari masuk, semua terasa sangat menyeramkan, tak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain berdoa dan berpasrah kepada Allah sang maha pencipta segala kesunyian di hutan ini. Ku pejamkan mataku, untuk mengatasi ketakutanku kuimbangi kesunyian dan suara alam dengan rangkaian kata-kata dalam doa hingga suaraku mampu didengar oleh sang alam.
“Ya Allah atas nama Ayah dan Ibu ku, atas segala keridhoan dan cinta kasih keduanya kepadaku, berikanlah aku dan kawan-kawanku keselamatan hingga pulang ke Jakarta….:
“Amien”
Aku terhenyak dari doa ku ketika suara seseorang yang berucap amin terdengar jelas di telingaku. Perlahan kubuka mataku yang tengah terpejam dalam doa dan….aku hampir pingsan melihat sosok raksasa berdiri tepat di hadapan ku, tubuhku lebih kecil dari tubuhnya, tinggi ku jauh dibanding tingginya dan mataku lebih kecil dari matanya.
“Ya Tuhan untung gw ga’ pingsan Nyo” gerutu ku masih dengan dada yang deg-degan karena kehadiran Benyo yang bagaikan makhluk halus.
“Mana kawan-kawan yang lain Nyo?” lanjutku heran karena hanya dia yang aku lihat.
“lagi pada istirahat di bawah, lagian kita dari tadi ngetrek terus ga ada breaknya”.
“Ya ampun Nyo…dari tadi gw ketakutan disini sendiri, sepi banget” keluh ku sambil kuraih sarung tangan yang ada di kantong celana ku.
“Bukannya lo tadi sama Azis, kemana dia sekarang?” tanya Benyo sambil celingak-celinguk mencari si Azis.
“Azis dah jalan duluan, dia ngetrek terus Nyo, gw ga’ sanggup ngejar dia, jalannya cepet banget katanya dia mo’ istirahat di Kandang Badak”
“Ya udah kalo gitu…eh Sree inget ya ntar malam lo janji ramalin gw, lo harus jadi psikiater gw dan lo harus dengerin semua curhatan gw ok!!”
“mang lo mo’ curhat apaan sih Nyo? curhat aja sekarang mumpung aman….tenang aja gw bisa jadi pendengar setia kok” ku palingkan muka ke arahnya, ku tatap matanya, ku berikan sebuah isyarat bahwa aku bersedia mendengarkan semua keluhannya dan tak ku sangka ia pun membalas tatapanku……ah itulah sifat buruk ku,aku sering kali menatap tajam mata kawan-kawan pria ku.
“Ceritanya panjang Sree, banyak kenangan manis yang udah gw lewatin sama Dian dan gw masih sayang sama dia tapi itu udah ga’ mungkin lagi”
Tak ku sangka Benyo begitu serius dan inilah kali pertama aku melihatnya serius.
“Why….kok bisa gitu?” tanyaku singkat dan tiba-tiba terdengar suara memanggil
“Nyoo….Nyoo…lo dimana…?” paduan suara anak-anak yang udah ga’ aneh membuat pembicaraan kami terputus.
“Eh…itu mereka Sree” sahut Benyo mengalihkan pembicaraan
“Gw disini sama Sree….!!!” Teriak Benyo
“Ayo Sree, ntar ceritanya gw sambung”
Sejak saat itu aku selalu berusaha mengimbangi langkah kawan-kawan ku dan sejak saat itu pula Benyo selalu ada mengimbangi langkahku dan membantu ku mendaki tebing-tebing terjal.
*******************
Ku nikmati pendakian ini. Air gunung yang dingin mengalir bening semilir angin sepoi-sepoi dan rimbun pepohonan membuat aku takjub pada keajaiban alam “Subhanallah” itulah kata yang paling indah yang mampu aku ungkapkan, dalam dingin yang di luar batas, angan ku menerawang dan tiba-tiba aku teringat luka Benyo. Mataku segera mencarinya dan ku temukan dia sedang terlelap tidur di bawah pohon besar yang beralaskan rumput liar.
“Apa lukanya sudah sembuh ya??? lelap sekali tidurnya???” bisikku dalam hati.
“Sree anterin gw ke air yuk…” Riana menepuk punggung ku, membuyarkan lamunanku dan ajakannya seperti bisikan malaikat yang mengingatkan aku akan dzhurku. “Iya Rie…gw belom sholat, lo juga belom kan?” tanyaku sembari ku sembunyikan tatapanku barusan.
“Ya Allah, apa aku harus membangunkannya ? ah…peduli amat dia mo sholat apa ga’ itu bukan urusan gw, tapi kalau aku bangunkan apa aku akan menggangunya???” bisikku dalam hati.
“tapi dia sendiri sering mengganguku, apa salahnya jika aku menggangunya untuk kebaikan…..”tambahku dalam hati.
“Nyo…….bangun Nyo, dah sholat belom lo? Ayo Nyo sholat dulu Nyo…..Bak……Bakti sholat dulu kek………Wan….sholat dong Wan”, satu persatu kawan-kawan ku aku ingatkan untuk menjalankan sholat dan sulit dipercaya si raksasa itu bangun dari tidurnya dan langsung menyalakan High Cook dan mulai memasak tapi Tuhan…entah keajaiban apalagi ini, ia melaksanakan sholat, aku begitu senang melihatnya.
“Terima kasih ya Allah, telah Kau bukakan pintu hatinya”, bisikku dalam hati.
“Ngga disangka ya, masakannya Benyo enak juga “, pujiku kepadanya.
“Ini benernya belom mateng Sree, coba kalau udah mateng pasti lebih enak lagi”, jawabnya bangga. Yah..karena dia memang selalu membanggakan diri.
Kenapa Tuhan??? kenapa aku semakin mengaguminya? Aku pikir ini hal biasa karena aku sering merasa kagum dengan kawan-kawan priaku, tapi……ah mungkin karena Benyo kawan baru ku. Aku meyakinkan pernyataan di hatiku tak ada keistimewaan di matanya, hanya sepasang bola mata yang besar dan hidung yang mancung.
Kami melanjutkan perjalanan, semakin lama batu-batuan gunung semakin terjal, kami pun berhasil melewati daerah yang dikenal dengan sebutan Tanjakan Setan dengan selamat. Disana ku lihat satu keajaiban, kemolekan Pangrango tampak indah terlihat dari sebatang ranting pohon, entah kenapa aku ingin berpose di atas ranting pohon itu.
“Nyo keluarin kameranya dong, gw mo di foto disini nih, wah keren banget Nyo, ntar bisa gw pamerin ke keluarga gw di Bogor, ayo cepetan Nyo”, teriakku girang dengan pandangan yang takjub, tapi tiba-tiba ia menarik tanganku dengan kasar.
“Eh…lo tuh mo’ cari mati ya……itu tuh jurang, bahaya Sree….”
“Ah gw bisa jaga diri kok, di Bogor aja gw sering manjat”, pintaku memaksa
“Eh itu licin, kalau jatuh siapa yang tanggung jawab?”, bentak Benyo kasar
“Bodo….pokoknya gw mo’ di foto disini”, pintaku dengan paksa
“gw fotoin lo deh, tapi bukan disini, ntar di alun-alun Suken, padang edelweisnya keren, pokoknya gw janji ntar gw anterin lo kesana”, rayu Benyo sambil kesal karena aku memang sulit diatur
“bener …???janji…???yakin megang janjinya??!!?”, tanyaku meyakinkannya
“Ya gw janji”, jawabnya singkat
“Tapi gw boleh kan difoto di pinggirnya, ya…boleh dong ya please…”
“Uuh susah banget sih ini anak, udah deh lo ditemenin Bakti sama Iwan aja, abisnya gw ngeri kalo lo foto di situ sendiri”
“Makasih Nyo….lo emang baik hati, suka menolong dan tidak sombong he….he…he..”
***************
Tepat pukul 18 lebih 45 menit kami sampai di puncak gunung, kawan-kawan ku segera mendirikan tenda dan bergantian menjalankan sholat maghrib. Rasanya bahagia sekali hingga aku baru teringat akan lelah ku. Ku baringkan tubuhku perlahan-lahan tapi tiba-tiba Benyo bertertiak dari luar tenda.
“Eh tolong ya psikiater gw ga’ boleh tidur, tepatin dong janji lo Sree….woi…Sree….Sree…”.
Tak ku pedulikan teriakan Benyo, ku ingatkan ia tentang satu hal tahajud ku
“Nyo…bangunin gw jam 1-an ya, gw belom sholat isya sekalian mo tahajud ok” lelah mengiringku terlelap dalam tidur suasana dingin yang menusuk semakin tak terasa, alun-alun Surya Kencana menghiasi mimpi indahku………………………………….
“Sree….Sree….bangun Sree udah jam tiga pagi nih, lo’ kan mo’ solat, ntar telat gw lagi yang diomelin, ayo bangun……”, si raksasa mulai teriak-teriak tepat ditelingaku
“Aduh berisik Nyo…emang ini jam berapa?” tanyaku dengan mata yang masih terpejam dan suara yang parau.
“Jam tiga pagi” jawabnya santai
“Apa….jam tiga!!!” aku terperanjat bangun sambil mengucek-ngucek mataku yang masih terkantuk-kantuk. Segera kuambil air wudhu, kulihat Benyo sedang asyik memasak mie instant.
“Sree lo laperkan, nih gw masakain mie, lo sholat aja dulu, abis sholat kita makan mie dan kembali ke rencana semula” sapa Benyo sambil tersenyum-senyum aneh.
“Rencana semula??maksud lo’???” tanyaku heran dengan suara yang masih terdengan serak karena baru bangun tidur
“Ngeramal sampai pagi”, jawab Benyo sambil cengegesan ‘ga puguh judul
“Udah ah, gw mo sholat dulu”BT rasanya ngliat tingkah orang yang ga puguh juntrungannya.
…….”Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat hidup yang engkau berikan, jadikanlah aku hambamu yang selalu bersyukur dan berikanlah kami keselamatan. Amien……”
“Sree ini mienya udah mateng, makan dulu biar perut lo gak kosong”. Benyo menyodorkan sepiring mie yang masih hangat setelah aku selesai sholat.
“buat lo sendiri mana Nyo?” tanyaku heran karena mie instantnya cuma sepiring
“Tenang…makan aja dulu, ga’ usah mikirin gw” sahut Benyo
Aku makin keheranan melihat tingkahnya dan aku kembali menatap matanya, terbersit satu tanya dihatiku “kenapa si rakus ini tiba-tiba perhatian dan kok ngedadak jadi dermawan???rasanya aku gak tega untuk makan mie ini sendirian”.
“Yakin ini buat gw Nyo???” tanyaku meyakinkan kembali
“Berdualah Sree, kan susah senang bersama he…he….he…”jawabnya sembari cengengesan
“Dasar si badan raksasa mana tahan melihat makanan” bisikku dalam hati
“Nyo, bikinin kentang goreng dong Nyo” teriak Azis yang juga kelaparan
“Nuggetnya masih ada kan?” tanya Kozek dan Atex berbarengan
Yaa…..akhirnya semua terbangun, bukan hanya karena suara kami yang berisik tapi karena aroma kentang goreng dan nugget yang membuat perut mereka kelaparan. Selesai makan aku memenuhi janjiku, ku kerahkan semua kemampuan meramalku untuk meraba situs kehidupannya di masa lalu. Tak hanya Benyo tapi Wiwin, Riana, Bakti, Azis, Atex dan Kozek pun aku ramalkan, sebenarnya ramalanku malam itu hanya sebuah lelucon iseng untuk menghangatkan suasana, segudang canda dan tawa menghiasi malam itu suasana gaduh di kemah kami menetralkan kesunyian dan keangkeran belantara tapi suasana gaduh itu tak mampu membangunkan Iwan dan Shiepiet yang tertidur lelap bagaikan kerbau mati. Akhirnya satu per satu kawan-kawanku tertidur kembali, aku teruskan ramalanku dengan Benyo, aku merasakan pagi lama sekali, padahal aku ingin sekali melihat keindahan sunrise di puncak Gede dan padang edelweis yang begitu megah.
“Nyo jam berapa sekarang, kok pagi datangnya lama banget sich…?!?”
“Tenang Sree…terusin aza ngeramalnya baru juga jam setengah tiga pagi” jawab Benyo polos
“Apa….jam setengah tiga?!?.....terus tadi lo bangunin gw jam berapa….?!?”sahutku setengah berteriak
“Jam sepuluh” Benyo tersenyum-senyum sepertinya dia puas membohongiku dan menggangu mimpi indahku
“Uhhh…..” kesal rasanya, tapi aku tak mampu berkata apa-apa, pantas saja aku sangat sebentar menikmati tidur malamku. Ingin rasanya marah, tapi setiap melihat wajahnya aku selalu tertawa, mungkin karena wajahnya kaya badut, maklum dia kan manusia bodoh.
“Udah ah….gw ngantuk, Nyo curhatnya lain kali aza ya” akupun langsung tertidur tepat di tempat aku duduk. Aku merasa sangat kedinginan, kedua kaos kakiku dipakai Riana yang sudah berada di alam mimpi. Benyo yang masih belum tertidur menyarankan aku untuk memakai sarung miliknya, dan kemudian akupun memakainya. Tak lama Benyo pun tertidur di sampngku karena sudah tak ada lagi lahan kosong untuk tidur. Ketika aku balikkan badanku tiba-tiba aku melihat kakinya bergerak-gerak, bibirnya membiru menahan dingin dan entah kenapa aku merasa sangat khawatir dengan keadaannya. Setelah aku periksa, ternyata ia tidur tanpa menggunakan matras. Jelas saja ia kedinginan karena si bodoh itupun hanya menggunakan celana pendek, aku jadi merasa sangat bersalah karena selimutnya aku pakai. Segera aku bagi selimut yang aku pakai untuk menyelimuti kakinya, karena aku tahu ia sangat kedinginan.
Shubuh pun akhirnya tiba, aku segera bangun, sholat, dan tak akan aku lewatkan keindahan sunrise diatas puncak gunung Gede.
“Wah…pagi yang sangat indah” gumamku, setelah aku berhasil memotret kemunculan sang raja siang bersama Azis, Baktie, dan Shiepiet. Aku segera membangunkan Benyo untuk menagih janjinya mengantarkanku mengunjungi padang edelweis.
“Nyo…..Nyo….bangun Nyo, ayo dong katanya kita mau ke padang edelweis Nyo” ku bangunkan Benyo yang masih tertidur pulas, ku paksa ia membuka kelopak matanya tapi si pemalas itu tak sedikitpun menghiraukanku dan ia makin asyik tidur sembari menarik selimutnya.
”Nyo…janji adalah hutang tau, dan hutang itu harus dibayar!!ayo mana janji lo??!!?bangun dooooong….uh…Benyooooo……banguuuuun……..” aku berusaha membangunkannya sekuat tenaga tapi ia masih seperti mayat hidup. Aku mencoba untuk menarik selimutnya tapi ia masih tetap terlelap….aku hampir putus asa, aku diamkan ia sejenak dan ah…aku ada ide…
“Nyo bangun….lo mau makan agar-agar ga’?”rayuku kembali
“gw bikin agar-agar nih Nyo, udah mau mateng loh, mau nggak?’ntar lo ga’ kebagian Nyo….Nyo….bangun dong….eh bolot….budek….banguuuuuun” teriakku kesal karena si raksasa itu masih tetap tak bergeming.
“uhh…berisik tau!!!ini masih pagi, gw masih ngantuk, ngantuk, ngantuk tuk….tuk….tuk, lo ga’ bisa liat orang seneng apa?!?”
aku langsung tercengang seperti baru disambar petir aku mematung mendengar teriakan sang raksasa yang sudah jelas murka. Sejenak rasa bersalah menyelimutiku, aku terlalu memaksanya tapi, aku juga benci karena ia mengingkari janjinya.
“Sree minta dianterin Bakti aja ya, gw masih ngantuk banget nih……”
Tiba-tiba aku mendengar volume suara Benyo turun 180º dia berbicara pelan penuh kelembutan. Tak ada yang bisa aku lakukan, bahkan meminta Bakti mengantarku pun aku merasa enggan. Terpaksa harus ku pendam mimpi indahku mengunjungi padang edelweis. Air mataku hampir jatuh, tapi ku coba untuk menahannya dengan berpura-pura mengaduk-aduk agar-agar yang sedang aku masak. Tak lama aku melihat si raksasa yang ingkar janji itu bangun dan menoleh ke arahku, tapi aku tak memperdulikannya, aku sudah tak mau lagi menagih janjinya. Untuk menghilangkan kesedihanku, aku bermain kartu dengan Iwan, Kozek, dan Atex. Aku berusaha untuk tetap tertawa walau hatiku cukup kecewa.
“Sree…cepetan ntar keburu siang, lo mau ga’ ke padang edelweisnya?!?” Benyo berteriak dari luar tenda dengan jaket biru tebal milik Iwan.
“Apa…kita jadi ke padang edelweisnya Nyo?!?” teriakku girang seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Buruan Sree sebelum juragan berubah pikiran tuh” sahut Wiwin dari luar tenda
“Cepet, mumpung gw udah siap nih” tambah Benyo singkat.
Sejenak hilang sudah kesedihanku, tak ku perdulikan permainan kartuku dengan Iwan, Kozek dan Atex karena merekapun memutuskan untuk ikut, Wiwin dan Riana pun jadi berminat,sedangkan Azis, Baktie dan Shiepiet tetap tinggal di kemah kami.
“Maafin gw Nyo, ternyata lo ga’ sejahat yang gw bayangkan” bisikku dalam hati.
Selama perjalanan ke daerah Suken aku berjalan lebih dulu daripada kawan-kawanku. Aku begitu bersemangat sampai akhirnya aku sadar aku sendirian di tengah-tengah perjalanan.
“Win…Win…Win lo dimana?!?Nyo…Nyo...kok lo pada lama banget sih?!?” teriakku pada kawan-kawanku yang berada cukup jauh dariku.
“Ya….Bogor…..Bogor…….Bogor, lo dimana?!?”
“Wah itu pasti suara Benyo” bisikku dalam hati
“Gw udah di bawah Nyo…,makanya cepetan dong…!!!” sahutku dengan berteriak.
Tak lama aku melihat Benyo berlari ke arahku.
“Mana Wiwin dan yang lainnya Nyo?” tanyaku heran karena hanya Benyo yang aku lihat
“Mereka ga’ jadi ke Suken Sree” terang Benyo lemas
“Loh kok gitu, memangnya kenapa??”
“Mereka kecapean Sree, takut ga’ punya tenaga buat pulang, jadi yang turun Cuma kita berdua aja”
“Terus kita harus gimana?” tanyaku bingung
“Yah…terserah lo deh, semua keputusan ada di tangan lo”
“Tapi kita udah di tengah-tengah Nyo, sayang kalo ga’ diterusin, tapi gw juga ga’ mau dibilang egois sama yang lain” sahutku tambah bingung
“Semua keputusan ada di tangan lo, gw Cuma nepatin janji gw Sree” sahut Benyo menjelaskan
“semoga aja yang lain ngerti, ayo kita terusin aja” ajakku yang tak mau berpikir panjang lagi.
******************
“Nyo….itu bunga edelweisnya….dah keliatan Nyo….!!!” Teriakku girang
“Yang disana lebih rimbun Sree…lebih keren!”
“Nyo gw boleh metik ga’???setengkaiiiiii aja…..boleh kan Nyo….???” pintaku dengan muka memelas
“Denger ya Sree, kalau lo coba metik tuh bunga, satu aja, gw tinggalin lo disini” tegas Benyo lantang seolah memberikan ultimatum
“Tapi Nyo…?!?”
“Ga’ ada tapi-tapian ok!!!” sahut Benyo tegas
“Mending lo foto disini aja Sree, sini gw fotoin”
“Ntar aja deh Nyo, gw masih pengen mandangin bunga-bunga ini….” Sahutku pelan. Kemudian Benyo berjongkok di atas sebuah batu sedangkan aku masih asyik memandangi bunga-bunga itu. Aku terdiam takjub dan Benyo pun terdiam. Suasana jadi hening, entah apa yang ada di pikirannya dan apa yang ada di pikiranku, aku sendiri tak mengerti. Hanya diam, hanya bisu dengan mata yang terus mencari kupalingkan muka ke arahnya, entah apa yang harus ku tanyakan. Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutku “Katanya lo mau cerita Nyo, ayo mumpung ga ada anak-anak. Tapi apa lo yakin mau cerita sama gw, sedangkan status gw Cuma orang baru di kehidupan lo?”
“Kenapa mesti ga’ yakin Sree, gw mau cerita sama lo karena gw percaya sama lo, tenang aja lagi….”
“Memangnya lo masih sayang sama Dian ya Nyo?” tanyaku pelan sembari berusaha untuk membuatnya tidak tersinggung
“Yaa gitu deh Sree….udah satu tahun tapi gw masih belum bisa ngelupain dia, dia banyak ngasih kenangan manis ke gw Sree” jawab Benyo dengan suara yang datar.
Wajahnya semakin serius, nada bicaranya penuh dengan perasaan dia terbenam dalam kesedihan dan aku….aku mencoba menanggapi ceritanya sembari terus ku perhatikan perubahan wajahnya.
“Kalo lo masih sayang, kenapa harus udahan Nyo? Kenapa ga’ lo kejar aja terus? tanyaku pelan
“Itulah Sree….perbedaan prinsip yang sulit gw mengerti jadi jurang diantara kita, tapi udahlah mungkin dia memang bukan jodoh gw” tutur Benyo masih dengan suara yang datar
“Jadi sekarang rencana lo apa?”
“Gw ga’ mau pacaran dulu Sree, gw mau bahagiain nyokap gw dulu, gw mau beresin kuliah gw setelah itu gw nyari kerja dan baru deh merit. Gw pasti bisa dapetin yang lebih baik dari Dian kan Sree???” tanya Benyo penuh harapan
“Yah Nyo….gw do’ain lo pasti dapetin yang lebih baik dari Dian” kucoba meyakinkan hatinya.
Kupalingkan muka kearahnya dalam hitungan detik ia melirik ke arahku, dia membalas tatapanku tajam, lebih tajam dari biasanya dan…..aku terperangkap dalam tatapan yang bisu, hanya ada isyarat yang sulit aku mengerti. Bola matanya berbinar dan…..inilah tatapan pertama yang membuat jantungku berdegup kencang. Dia menatapku semakin tajam, semakin dalam tanpa dia sadar tatapan itu menoreh luka yang lebih tajam, lebih dalam, menodai putihnya hati yang tengah mencari sebuah arti cinta………tetapi kenapa mata itu penuh dengan kesedihan, kenapa mata itu seolah bercerita tentang luka hatinya, kenapa mata itu milik seseorang yang yang tengah patah hati, kenapa mata itu memberikan aku keyakinan dan harapan meski aku tahu bahwa mata itu akan menoreh luka yang teramat dalam. Ada cinta di matanya, entah untuk siapa cinta itu, tapi aku yakin itulah mata indah yang kutemukan dalam mimpiku.
Tuhan…..akupun tak pernah mengerti mengapa pemilik mata dalam mimpi indahku di padang edelweis adalah sahabatku sendiri. Entahlah, seperti apapun aku mampu meramalkan kehidupan seseorang tapi biarlah yang kemarin telah terjadi, hari ini aku jalani dan esok akan tetap menjadi misteri………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar